![]() |
| (Memori perjalanan pemuda pedalaman Aceh Utara) |
CintayangLahirdiTengah Kekacauan, Tahun 2006, di tengah kerumitan kehidupannya, Juara bertemu RAS—seorang gadis ceria yang baru memasuki kelas satu SMA, berusia hanya 16 tahun. Meskipun usia dan keadaan mereka jauh berbeda, ikatan cinta tumbuh cepat dan kuat. Tanpa ragu, mereka memutuskan menikah, membangun rumah tangga kecil di tengah lingkaran perjuangan. Cinta itu menjadi pijakan Juara untuk lebih giat berjuang, karena kini dia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Karunia Anak, Alasan Lebih Giat Berjuang
Tak lama setelah menikah, karunia datang satu per satu. Putra sulung lahir pada tahun 2007 diberinama RAUZ, membawa senyum pertama yang memanaskan hati keluarga. Kemudian putri tengah tahun 2009 diberi Nama RAIH , yang membuat rumah semakin meriah. Setelah jeda yang lumayan jauh—selama sepuluh tahun dan putra bungsu lahir tahun 2019 dihadiahkan nama RIZKI, menjadi hadiah lagi yang membuat Juara dan RAS semakin bersemangat. Anak-anak itu adalah alasan mereka tidak pernah menyerah, meskipun cobaan terus datang.
Dukungan Salingan, Mimpi Pendidikan Terwujud
RAS, meskipun sudah istri dan ibu, masih menyimpan impian untuk melanjutkan pendidikan. Juara, yang sendiri pernah merasakan kesedihan putus sekolah, segera memberi dukungan penuh. Bersama dengan pihak sekolah, mereka merencanakan langkah demi langkah: RAS melanjutkan ke SMA, lalu melangkah ke perguruan tinggi. Dengan kerja keras yang tak kenal lelah dan doa yang tulus, RAS lulus S1 dengan predikat cumlaude—bahkan berhasil lulus tes ASN dan menjadi pegawai negeri!
Juara Juga Menggapai Mimpinya Sendiri
Tidak mau ketinggalan istri dan anak-anaknya, Juara juga memulai perjalanan pendidikan kembali. Dia mengambil paket C untuk menyelesaikan sekolah menengah, lalu dengan keberanian mendaftar ke sebuah kampus. Meskipun harus bekerja sambil kuliah, dia tidak pernah menyerah. Akhirnya, impiannya juga terwujud: Juara lulus dan menjadi sarjana. Kini JUARA aktif sebagai penulis dengan menekuni sebagai sikuli tinta, mengungkapkan cerita-cerita dari pedalaman yang sangat dicintai.
Cahaya di Ujung Terowongan Tahun 2025,
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh kebahagiaan bagi keluarga Juara. Putra sulung menjadi mahasiswa baru di universitas di Kota Lhokseumawe. Putri tengah memasuki kelas dua SMA dengan semangat belajar yang tinggi.
Sedangkan putra bungsu baru masuk kelas satu SD, penuh kegembiraan mengeksplorasi dunia baru. Keadaan rumah tangga yang dulunya sulit, kini mulai membaik. Semua ini bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila perjuangan tulus, ikhlas, sungguh-sungguh yang disertai do'a, setiap langkah berat akan membawakan manfaat yang tak terduga. Minggu, 14 Desember 2025, diangkat dari kisah perjalan JUARA dan RAS . ini sebagai contoh setiap perjuangan akan ada imbalan dari Allah Semoga bermanfaat. (Jf)
