ACEH UTARA, News Citra Aceh – Selama tiga tahun terakhir, Murtala (47), seorang tukang pangkas yang tinggal di Desa Meunasah Kumbang, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, terpaksa bertahan hidup di rumah yang kondisinya rusak parah dan nyaris roboh. Ia terus menempati bangunan itu meski tidak lagi memenuhi standar tempat tinggal yang layak.
Rumah berukuran 3 x 5 meter tersebut didirikan di atas pondasi bekas rumah milik almarhum neneknya. Kini, bangunan kayu itu tampak sangat memprihatinkan. Sebagian dinding sudah hilang, papan-papan kayunya lapuk dimakan usia, tiang penyangganya miring, dan atap rumbia yang berlubang membuat air hujan bebas masuk ke ruangan. Ditambah lagi, lantai yang masih berupa tanah menjadikan seluruh bagian rumah menjadi becek setiap kali curah hujan turun.
“Kalau hujan deras, seluruh bagian rumah jadi basah dan becek. Saya sering terpaksa tidur di pos jaga atau pos siskamling hanya untuk berteduh,” ungkap Murtala saat ditemui di kediamannya, Minggu (17 Mei 2026).
Pria kelahiran 1 Maret 1979 itu menceritakan, kerusakan parah pada bangunan itu mulai terlihat sejak tiga tahun silam. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu melakukan perbaikan yang berarti. Sehari-hari, ia menggantungkan hidup dari hasil bekerja sebagai tukang pangkas dan menggarap sawah dengan penghasilan yang tidak menentu.
Setelah bekerja keras, baru saja ia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp2 juta, sisa dari hasil panen setelah dipotong biaya sewa tanah. Dengan uang seadanya itu, ia memberanikan diri mulai memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit pada tanggal 17 Mei lalu. Namun, ia sadar jumlah itu masih sangat jauh dari cukup mengingat hampir seluruh struktur bangunan harus diganti atau dibangun ulang.
“Baru kali ini saya bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp2 juta, jadi saya nekat mulai perbaiki sedikit-sedikit. Tapi jelas belum cukup, karena hampir semuanya harus dibangun lagi,” ujarnya.
Harapan untuk mendapatkan bantuan seolah belum juga kunjung tiba. Murtala mengaku sudah beberapa kali diminta melengkapi berkas pengajuan bantuan rumah yang kabarnya bersumber dari Istri Gubernur Aceh, Marlina Usman, namun hingga kini tak ada kejelasan. Ia juga pernah diminta mengirimkan foto kondisi rumah kepada Ketua DPRK Aceh Utara, namun hasilnya pun nihil. Bahkan, ia menyatakan belum pernah sama sekali menerima bantuan sosial dalam bentuk apa pun.
Kondisi rumah yang tidak layak itu juga memisahkan ia dari anggota keluarganya. Murtala dikaruniai dua orang anak. Anak laki-lakinya kini bekerja di sebuah warung kopi di Kabupaten Bireuen, sementara anak perempuannya terpaksa tinggal di rumah tetangga selama tiga tahun terakhir karena tidak sanggup lagi menempati rumah yang rusak itu. Meski begitu, ia tetap bertahan.
“Walaupun seperti ini, saya tetap tinggal di sini karena hanya rumah inilah yang saya miliki,” tegasnya.
Hingga kini, belum ada bantuan berarti yang datang dari kerabat maupun warga sekitar untuk merenovasi tempat tinggalnya. Meski belum pernah terjadi insiden jatuh bangunan, ia terus diliputi kekhawatiran, terutama saat musim hujan tiba. Air yang terus merembes masuk sering kali merusak instalasi listrik, membuat lampu sering mati dan berisiko tinggi menyebabkan korsleting yang bisa memicu kebakaran.
“Saat hujan, air sering masuk sampai ke bohlam lampu dan membuatnya rusak. Saya paling takut kalau sampai terjadi korsleting listrik di rumah yang sudah rapuh ini,” ungkapnya dengan cemas.
Oleh karena itu, satu-satunya harapan besar Murtala kini tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara maupun Pemerintah Aceh. Ia sangat berharap mendapat perhatian agar bisa memperoleh rumah layak huni, sehingga ia dan kedua anaknya akhirnya bisa berkumpul dan tinggal dengan nyaman di rumah mereka sendiri.(Jf).
